Pentingnya Merencanakan Keuangan

Pernah ngerasa ga sih,saat sudah gajian,di tengah bulan gaji udah habis aja padahal tanggal gajian berikutnya masih jauh. Gaji datang tiap bulan tapi kok rasanya cuma numpang lewat saja di rekening. Atau pada saat Gaji sudah naik, tapi kok tabungan ga terkumpul juga.

Nah beberapa waktu lalu saya menghadiri workshop mengenai Financial Management. Tahun ini saya merasa baru merasa “melek financial”. Sebenarnya sih ini bukan merupakan hal yang baru, tetapi saya baru menyadari pentingnya mempelajari Financial Management. Hal-hal yang saya pelajari adalah:

  1. Kebutuhan vs keinginan

Seringkali kita membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan atau membeli sesuatu yang sebenarnya tidak sanggup kita beli. Pada saat kita sedang jalan-jalan di mall yang tujuan awalnya mungkin hanya untuk makan bersama-sama keluarga atau bertemu dengan teman. Tetapi ketika berada di mall, melihat ada toko yang sedang diskon lumayan besar. Walaupun kita tidak membutuhkan barang tersebut, tetapi karena sedang diskon akhirnya kita pun membelinya. Atau belanja bulanan kebutuhan rumah, tiba-tiba banyak barang yang tidak ada di daftar belanja ikut kita beli.

Susah sih membedakan kebutuhan dan keinginan, apalagi kalau sedang ada diskon, ada saja alasan untuk tetap membelinya. Harus banyak-banyak menahan diri, apabila mau membeli sesuatu, hendaknya dipikirkan kembali. “apakah saya butuh barang ini sekarang”, “apakah ada barang lain yang lebih ekonomis dari ini”. Kalau wanita biasanya banyak tergoda dengan baju, tas, sepatu atau makeup. Mungkin bisa disiasati dengan berpikir “oke, saya akan pikirkan ulang untuk membeli ini, kalau seminggu lagi saya masih menginginkan barang ini maka baru akan saya beli”.

  1. Alokasi dana dan cashflow positif

Cashflow positif adalah apabila pemasukan lebih besar dibandingkan pengeluaran, sehingga kelebihan uang tersebut dapat di alokasikan untuk menabung atau berinvestasi.

Penting banget mengatur cashflow, yaitu arus kas yang masuk dan keluar. Segala pemasukan dan pengeluaran sebaiknya dicatat dengan rapih, baik pengeluaran yang kecil seperti karcis parkir, ongkos ojek, beli pulsa ataupun beli kopi starbucks maupun pengeluaran rutin seperti belanja bulanan, bayar air dan listrik, atau biaya sekolah. Hal ini berguna banget untuk melacak aliran keuangan kita. Supaya pada saat akhir bulan nanti bisa terlihat kemana saja arus kas tersebut habis.

Untuk memudahkan pencatatan biaya rumah tangga, saya mendownload aplikasi mywallet di ponsel. Aplikasi yang tersedia di android seperti; money lover, finansial calculator atau walet. Jadi setiap saya membeli sesuatu, langsung saya catat dalam aplikasi itu. Setelah sebulan baru saya ketik ulang di excel, barulah bisa melakukan review atas pengeluaran bulanan saya.

Kemudian dianalisa deh, mana saja pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan. Supaya dibulan berikutnya tidak terulang lagi. Saya juga masih belajar menata finansial kok, belum sempurna dan masih sering tergoda diskon. Hehe…. tapi justru itu lah saya merasa harus memulai belajar mengatur keuangan dengan lebih baik.

  1. Pengelolaan Hutang, Kartu Kredit dan Lifestyle

Menurut seminar yang saya ikuti, pengelolaan hutang yang sehat adalah berhutang maksimal 30% dari pendapatan. Contoh; apabila gaji Anda 10 juta, maka maksimal Anda hanya bisa berhutang paling banyak sebesar 3 juta, agar cashflow anda tidak terganggu. Hutang terbagi dua yaitu: hutang produktif dan hutang konsumtif. Hutang produktif adalah hutang yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan, seperti hutang untuk modal usaha atau menambah aset seperti membeli rumah. Sedangkan hutang konsumtif adalah hutang yang digunakan untuk kebutuhan konsumtif seperti mobil, HP, dan Laptop.

Seringkali hutang konsumtif itu di sebabkan oleh Lifestyle dan gengsi. Dengan era social media seperti sekarang ini, mudah sekali melihat perubahan gaya hidup orang lain. Melihat teman punya Handphone keluaran terbaru, kita pun tergoda untuk mengganti handphone yang ada, walaupun handphone kita masih bisa untuk digunakan.

Saat akhir bulan gaji udah abis, tapi masih perlu beli ini itu jadilah bayar pakai credit card. Kalau pakai credit card kayanya enak ya tinggal gesek saja selesai, eiiitts….. pas tagihannya dateng baru deh sadar ternyata habisnya lumayan juga ya. Dan jangan lupa bayar tepat waktu, supaya ga tidak terkena denda. Memiliki credit card bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi kita harus tetap bijaksana dalam menggunakannya agar tidak bermasalah dengan hutang di kemudian hari.

  1. Dana darurat

Dana darurat itu adalah dana yang harus disiapkan untuk jaga-jaga  apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti anggota keluarga ada yang jatuh sakit, terjadi bencana alam atau terkena PHK. Meskipun pada saat ini keadaan keuangan baik-baik saja, kita tidak tahu ke depan akan seperti apa. Lebih baik jika kita menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Menurut beberapa sumber, dana darurat yang harus dipersiapkan oleh orang yang berstatus single adalah 4 atau 6 bulan pengeluaran bulanan. Sedangkan untuk orang yang sudah berkeluarga, mempersiapkan dana darurat sebanyak 6 atau 12 kali pengeluaran bulanan. Apabila pengeluaran perbulan adalah 5 juta, maka dana yang harus disisihkan untuk dana darurat adalah 30 juta – 60 juta. Menyiapkan dana darurat pun tidak langsung ada, namun wajib disisihkan setiap bulannya untuk mencapai target dana darurat.

  1. Investasi

Setiap tahun harga kebutuhan pokok pasti naik, hal ini di sebabkan karena adanya inflasi. Penurunan nilai uang yang terjadi dari tahun ke tahun. Dulu tahun 2000, uang sebesar Rp 100.000 nilainya besar sekali, bisa untuk membeli banyak belanjaan di supermarket, tapi sekarang uang Rp 100.000 cuma bisa untuk beli beberapa barang. Untuk beli susu anak saja cuma dapet 1 kaleng, itu pun hanya beberapa merek susu saja. Maka dari itu penting banget menyisihkan uang untuk memulai menabung dan berinvestasi.

Berinvestasi pun ada banyak pilihannya, seperti properti, emas, deposito, obligasi, reksa dana dan saham. Tinggal mencermati saja pilihan mana yang cocok dengan kemampuan dan profil resiko kita.

Sebelum berinvestasi pun hendaknya menetapkan tujuan, apakah tujuan itu untuk jangka panjang atau jangka pendek. Investasi jangka pendek memberikan imbal hasil dalam waktu yang lebih sebentar yaitu 3 bln-2 tahun. Contoh investasi jangka pendek adalah deposito, dengan penempatan dana dalam waktu 6 bulan sampai 1 tahun dengan rata-rata bunga saat ini sekitar 5-6 % per tahun. Investasi jangka panjang seperti menabung saham, untuk memperoleh hasil yang baik dari menabung dibutuhkan waktu yang lebih panjang karena fluktuasi harga saham yang tidak menentu setiap harinya kecuali anda seorang trader yang melakukan jual beli saham setiap hari.

Pelajaran lainnya yang saya dapat adalah jangan meletakkan sumber penghasilan dalam satu wadah saja. Istilah bahasa inggrisnya “Don’t put all your eggs in one basket” . Apabila kita menggantungkan diri pada satu sumber saja, seperti gaji saja. Suatu saat terjadi PHK misalnya, kita kehilangan sumber pendapatan satu-satunya. Itulah mengapa kita perlu dana darurat, tabungan, dan investasi. Sehingga kita masih memiliki sumber keuangan cadangan lain yang bisa digunakan sementara mencari pekerjaan atau sumber penghasilan yang baru. Jalan menuju masa depan masih panjang, jadi marilah kita mulai menata keuangan supaya masa tua lebih terjamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s